Pengakuan Makelar Ginjal

0
4
Suasana operasi laparoskopi selama transplantasi ginjal di Rumah Sakit. (Foto: AFP PHOTO/Brendan Smialowski)
Pada kalangan penderita gagal ginjal, dia bagaikan penunda ajal. Setidaknya sudah 32 pasien ia selamatkan selama lima tahun terakhir. Bukan dokter ataupun suster, dia merupakan makelar ginjal beralaskan sneakers.
Sebut saja ia Ronny. “Jangan sebut nama asli, saya sedikit khawatir,” kata dia saat ditemui salah satu awak media di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Sabtu pekan lalu.
Sepak terjang Ronny bermula di Jakarta pada 2013, ketika sahabatnya menderita penyakit gagal ginjal yang jika tidak segera disembuhkan, akibatnya harus cuci darah seminggu sekali. Biaya cuci darahnya pun tidak murah, maka satu-satunya saran dari dokter: Temukan orang yang mau mendonorkan ginjal.
Pada waktu itu, informasi soal transplantasi ginjal amat terbatas. Kementerian Kesehatan belum membentuk Komite Transplantasi.
“Mencari makelar pun tidak ketemu,” kata Ronny.
Bermodalkan sambungan internet, Ronny berselancar ke sejumlah forum transplantasi ginjal. Tak ada yang berbahasa Indonesia. Singkat cerita, pendonor berhasil didapat dan operasi cangkok ginjal dilakukan. “Sekarang ia sehat, segar bugar,” ujar pria dua anak itu.
Ronny jadi tahu betapa sulitnya mencari pendonor ginjal. Dia lantas membuat blog tentang transplantasi ginjal. Tujuannya agar penderita gagal ginjal bisa bertemu dengan calon pendonor ginjal.
“Di Indonesia tidak ada,” kata Ronny yang kemudian berpesan agar nama situs webnya disembunyikan.
Setahun berikutnya, Ronny sibuk mempertemukan pengunjung blognya yakni penderita gagal ginjal dengan calon pendonor ginjal. Lama-lama, aktivitas sosial ini berubah menjadi bisnis jasa.
Empat tahun berlalu dan Ronny sudah terbiasa dengan uang jasa yang ia terima. Setidaknya ia dapat mengantongi 25 persen, sebagai komisi, dari harga ginjal yang dibayar pasien.
Harga ginjal paling murah yang pernah melalui jasanya adalah Rp 125 juta. Adapun yang terbaru adalah transaksi Rp 325 juta, yang dibayarkan seorang staf di instansi pemerintahan penderita gagal ginjal.
“Transaksi paling besar (atas jasa) saya terjadi pada 2014, yaitu USD 125 ribu,” ujar Ronny. Pasiennya adalah perempuan berkewarganegaraan Kanada yang memberi uang jasa Rp 375 juta 25 persen dari total transaksi senilai Rp 1,5 miliar tersebut.
Ilustrasi pengambilan ginjal. (Foto: shutterstock.com)
Setelah menemui Ronny dan calon pendonor di Jakarta, orang Kanada itu ke China dan dioperasi di sana. “Uang darinya saya gunakan untuk membayar biaya sekolah anak saya,” ujarnya.
Malang melintang di bisnis ginjal membuat Ronny memiliki segudang trik meloloskan calon pendonor dari penilaian tim dokter. Pertama, dia akan mempertemukan calon pendonor dengan pasien.
Kemudian, Ronny mengajarkan calon pendonor agar tampil meyakinkan di hadapan tim dokter. Yang penting adalah dokter merasa calon pendonor mengenali pasien dan merasa ingin memberikan ginjalnya secara sukarela. Padahal, Ronny mendapati banyak pendonor cuma menginginkan uang.
“Pernah yang sengaja mendonor karena butuh uang untuk membeli sepeda motor,” katanya.
Pihak rumah sakit, menurut Ronny, akan memberikan pertanyaan kepada pendonor dan pasien di waktu dan tempat berbeda.
“Saya bilang, kita ada sedikit setting-an, ada naskah gitu, lalu (mereka) diajarin. Pasien harus bicara seperti ini dan calon pendonor harus seperti itu,” kata Ronny.
Ilustrasi ginjal. (Foto: shutterstock.com)
Adapun tes lain hanya seputar kebugaran fisik, golongan darah, dan kondisi organ-organ lain termasuk jantung.
Di kalangan makelar ginjal, pengujian yang dilakukan tim dokter terhadap calon pendonor mudah diakali.
“Beberapa teman saya yang punya jaringan ke dokter pasti diloloskan, tapi tes tetap diikuti seakan-akan prosedur dijalankan,” kata Ronny.
Menurut Ronny, beberapa rumah sakit sudah mengetahui peredaran makelar ginjal. “Mereka tahu tapi menutupi karena etika kedokteran, sedangkan kami cuma berupaya membantu, tapi, ya, jangan sampai ketahuan khalayak,” katanya.
Ronny tak ambil pusing soal pekerjaan ini. Dia, misalnya, masih sering berbincang akrab dengan seluruh pasiennya lewat aplikasi pesan instan.
“Menjalani pekerjaan ini dengan takut, ya, saya takut. Di mata hukum ini disebut perdagangan. Tapi saya bukan calo, saya tak pernah menawarkan harga,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here