Penanganan Masalah Sampah di Gunung Rinjani

0
14

Sebagai salah satu kawasan geopark dunia, Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki daya tarik bagi siapapun yang merasa dirinya sebagai pecinta alam dan keindahan.

Pada tahun 2016 Gunung Rinjani didaki lebih dari 90 ribu orang, jumlah ini jauh melebihi populasi penduduk Kecamatan Sembalun yang hanya 19 ribu orang. Namun masalah pun timbul, karena sampah yang dihasilkan dari kegiatan pedakian mencapai 13 ton dan tidak terkelola dengan baik.

Menyikapi hal tersebut, pemuda Indonesia dan Australia berkolaborasi melakukan sebuah gerakan yang bernama Baraka Nusantara. Gerakan tersebut sejak tahun lalu menginisiasi program pengelolaan sampah di wilayah kaki Gunung Rinjani. Program tersebut diberi nama Sangkabira Waste Management.

“Sektor pariwisata memang terkesan menjanjikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat lokal, namun di sisi lain, pariwisata juga memiliki sisi negatif yang menimbulkan masalah sosial yaitu sampah yang merusak lingkungan,” kata pendiri Baraka Nusantara Siti Maryam Rodja, seperti yang dikutip dari Antara, Senin (9/7).

Tidak hanya sampah dari pendakian, kondisi di Kecamatan Sembalun diperparah dengan sampah yang seringkali dibuang di sungai dan hutan, atau dibakar karena tidak adanya tempat pembuangan sampah sementara.

Siti melanjutkan, program Sangkabira Waste Management memfokuskan pada kegiatan daur ulang sampah plastik dan pengolahan sampah pertanian menjadi media tanam untuk budi daya jamur.

“Pelatihan pengolahan sampah pertanian menjadi budi daya jamur tiram telah digelar pada 13 April lalu dengan menggandeng kelompok Myotech asal Bandung sebagai mitra. Pelatihan tersebut diikuti oleh 20 orang peserta murid,” ujar Siti.


“Diharapkan masyarakat yang berpartisipasi dalam program ini akan lebih banyak, karena program ini memiliki efek penurunan jumlah sampah, lingkungan lebih bersih, membekali pelajar dan pemuda untuk memiliki kewirausahaan sosial. Karena dana yang dihasilkan dari produk sampah tersebut sebagian dialokasikan untuk mendukung pendidikan di Kecamatan Sembalun.”

Menurutnya dari pelatihan ini lahir beberapa kelompok petani jamur muda yang sudah menghasilkan varietas jamur unik, yakni jamur tiram merah muda. Padahal jamur yang disemai dalam “baglog” adalah jamur tiram putih, dan jamur tiram cokelat.

Referensi : CNN Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here