Pejabat AS Sebut Rusia Telah Temukan Cara Untuk Ganggu Drone Kami

0
42
Foto : Wikipedia bahasa Indonesia

Satumediatv.com – Perusahaan manufaktur pertahanan Rusia, Automatica Concern, telah mengumumkan bahwa tiga senjata elektromagnetik baru akan diuji di Suriah.

Senjata baru ini dibagi menjadi versi kecil, sedang, dan besar, tergantung pada jenis target, dengan fokus utama pada pesawat tak berawak atau drone yang memenuhi langit Suriah. Demikian seperti dikutip dari media terafiliasi pemerintah Rusia,RBTH Indonesia 1 Mei 2018.

Salah satu senjata terkecil yang bernama Pishchal, merupakan senapan elektromagnetik portabel yang dirancang untuk melumpuhkan sinyal Wi-Fi dan GPS yang berasal dari drone untuk mengintai.

Senjata itu mampu merontokkan musuh di jarak hingga setengah kilometer, menggagalkan unit-unit mesin dengan sepenuhnya menghalangi pandangan mereka.

Rincian sisanya masih rahasia dan akan diresmikan selama pameran militer Army-2018 di Moskow pada Agustus ini, setelah uji pertempuran selesai dan hasil sudah diketahui.

Namun, diketahui bahwa Pishchal sama dengan senjata elektromagnetik REX-1 Kalashnikov yang baru. Prinsip bekerja mereka sama karena mereka menekan saluran komando dan kontrol dari drone yang paling sering ditemui di dunia seperti GSM, GPS, GLONASS, dan Galileo.

Drone akan bereaksi berbeda jika terkena tembakan senapan elektromagnetik tersebut. Tergantung pada modelnya, setiap drone punya dua mode jika mengalami kendala komunikasi atau hilang kontak dengan operator: antara kembali ke titik awal atau mendarat secara otomatis.

Rusia juga mengklaim telah menyiapkan dua senjata elektromagnetik berukuran medium dan besar, serta cukup kuat untuk menghadapi semua jenis drone, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar — seperti produk Amerika Serikat MQ-1 Predator atau MQ-9 Reaper.

Moskow mengklaim bahwa senjata-senjata elektromagnetik itu akan dipasang di Suriah demi memerangi drone yang dioperasikan kelompok teroris seperti ISIS. Namun, pesawat tak berawak Amerika Serikat turut beroperasi di kawasan yang sama.

Di sisi lain, Washington telah menuduh bahwa eksistensi persenjataan milik Moskow itu mengancam keselamatan operasi aviasi militer AS di Suriah utara — di mana mereka membantu kelompok milisi Kurdi lokal untuk memerangi teroris.

Amerika Serikat juga mengimbau bahwa senjata elektromagnetik tersebut, jika dioperasikan secara tidak bertanggungjawab, akan semakin meningkatkan tensi militer tinggi dengan Rusia– yang mana kedua negara merupakan aktor proxy conflict utama di negara yang tengah dilanda perang saudara menahun itu.

Sumber : Liputan 6

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here