Bus kayu asal Bangka ( Pownis ) kini cuma tersisa dua unit

0
38
Gambar By : Antaranews.com

Satumediatv.com – Bus ukuran medium itu merupakan angkutan yang menghubungkan Pangkal Pinang dan Sungai Liat pada tahun 1960 hingga 1990. Bus itu awalnya berjumlah 53 unit, namun kini hanya tersisa dua unit dan dirawat di Museum Timah Indonesia. Bus kayu dari Bangka Belitung yang disebut Pownis berjajar bersama 10 bus klasik lintas generasi pada pameran Indonesia Classic N Unique Bus (Incubus) di JIExpo Kemayoran pada 22-24 Maret 2018.

“Dahulu bus ini melayani transportasi distrik Pangkal Pinang ke Sungai Liat. Namun kini sudah tidak ada lagi, hanya tersisa dua unit”, kata Wakil Pengurus Museum Timah Indonesia Yahya Winda Ardianto di Kemayoran.

“Pownis” merupakan kependekan Perusahaan Oto Warga Negara Indonesia Sungai Liat yang dibentuk oleh para pengusaha atau pemilik armada bus pada tahun 1959, kata Yahya.

Yahya juga menceritakan bahwa dua unit bus kayu itu dibeli dari pemilik yang sudah kerepotan mengurus. Dua unit bus itu kemudian dirawat di Museum Timah dan bisa digunakan untuk keperluan wisata daerah. Secara fisik, bus kayu yang terpajang itu memang tidak sepenuhnya menggunakan kayu, melainkan memakai sasis dan mesin Mitsubishi Colt Diesel 100 PS tahun 1987.

Kayu-kayu jati dengan ketebalan sekira genggaman tangan orang dewasa itu digunakan pada lantai, atap, pintu dan bodi kabin penumpang. Bangku-bangku di barisan penumpang juga terbuat dari kayu. Ruang kemudi bus kayu masih mempertahankan interior Colt Diesel 100 PS dengan lingkar kemudi yang besar, spedometer konvensional dan sebaris bangku yang memuat tiga penumpang.

Koordinator Indonesia Classic n Unique Bus (Incubus) A.M Fikri mengatakan bus dengan kabin kayu sudah jarang ditemukan di Tanah Air, kendati sempat menjadi angkutan andalan beberapa wilayah.

Menurut Fikri, bus kayu memiliki keunggulan karena menggunakan bahan kayu jati berukuran tebal sehingga memberikan kekuatan dan daya tahan yang lama. Namun seiring hadirnya bus-bus baru, model kabin kayu jati perlahan ditinggalkan karena mahalnya biaya perawatan.

Sumber : Antaranews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here